Tahukah Anda bahwa
setiap tanggal 10 November ditetapkan sebagai hari untuk memperingati jasa-jasa
pahlawan Indonesia? Pada tahun 2016 ini, genap 71 tahun sudah Indonesia
merayakan hari bersejarah yang bertempat di kota Pahlawan, Surabaya. 10
November 1945 merupakan hari yang bersejarah bagi tanah air Indonesia, hari
tersebut kini dikenal sebagai Hari Pahlawan Indonesia. Mungkin tidak banyak
orang terutama pemuda-pemudi yang ingat bahkan mengetahui bahwa 10 November
merupakan peringatan Hari Pahlawan Indonesia atau mungkin tidak mengetahui
alasan mengapa 10 November dijadikan Hari
Pahlawan Indonesia. Oleh karena itu, lewat artikel ini akan membahas sejarah
dan makna Hari Pahlawan Indonesia sekaligus memperingati Hari Pahlawan
Indonesia yang jatuh pada 10 November 1945.
Sejarah Hari Pahlawan
Peringatan Hari Pahlawan ditetapkan
karena adanya suatu peristiwa besar yang berlangsung di kota Surabaya, yang
hingga saat ini kota tersebut juga sering disebut sebagai kota Pahlawan.
Peristiwa tersebut ditandai dengan adanya konfrontasi di kota Surabaya yang
melibatkan warga Surabaya dan pasukan dari NICA (Pemerintahan Sipil Hindia
Belanda). Karena adanya peristiwa tersebut, Sumarsono yang merupakan mantan
dari gerakan PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang juga turut andil dalam
peristiwa tersebut mengusulkan kepada Presiden Soekarno pada waktu itu untuk
menjadikan 10 November sebagai hari untuk memperingati Hari Pahlawan.
Peristiwa peperangan berlangsung di kota
Pahlawan, Surabaya tersebut menjadi legitimasi peran prajurit dalam usaha
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sudah dideklarasikan pada 17 Agustus
1945. Perjuangan rakyat Surabaya dan juga sukarelawan yang membantu dalam
menghadapi agresi militer saat itu menjadikan suatu nilai kepahlawanan yang
dinilai cukup untuk menjadikan 10 November sebagai hari untuk memperingati Hari
Pahlawan.
Peristiwa ini ditandai dengan insiden
yang terjadi di Hotel Yamato Surabaya yang pada saat itu hotel tersebut bernama
Hotel Oranje. Setelah ditetapkannya kemerdekaan Indonesia dari kubu Jepang,
pemerintah Indonesia saat itu mengeluarkan maklumat yang mengatakan bahwa
bendera Sang Saka Merah Putih agar terus dikibarkan ke seluruh wilayah
Indonesia, termasuk Surabaya. Namun pada 18 September 1945 sekelompok
masyarakat Belanda yang dipimpin oleh Mr. Ploegman mengibarkan bendera Belanda
tanpa persetujuan dari Pemerintah Indonesia Daerah Surabaya, hal ini tentu saja
menyulut amarah warga Surabaya yang menganggap apa yang dilakukan oleh Ploegman
merupakan penghinaan terhadap kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamirkan
pada 17 Agustus 1945.
Mr. Ploegman yang menolak untuk
menurunkan bendera Belanda dari Hotel Yamato membuat geram banyak rakyat
Surabaya. Setelah diadakannya perundingan yang mengakibatkan tewasnya Mr.
Ploegman, kemudian terjadilah baku tembak antara masyarakat Indonesia dengan
tentara Inggris yang berlangsung pada 27 Oktober 1945. Peperangan yang
melibatkan masyarakat Indonesia dengan tentara Inggris tersebut terus
berlangsung hari demi hari sampai ditandatanganinya gencatan senjata antara
kedua belah pihak pada 29 Oktober 1945, keadaan sempat mereda. Namun beberapa
bentrokan masih terjadi di beberapa tempat, puncaknya adalah pada saat pimpinan
tentara Inggris Brigjen Mallaby tewas terbunuh. Brigjen Mallaby tewas karena
serangan yang dilakukan terhadap mobil yang dikendarainya, ledakan terhadap
mobilnya tersebut mengakibatkan jenazah Mallaby sulit dikenali.
Puncaknya terjadi pada tanggal 10
November 1945, ketika Mayjen Robert Mansergh selaku pengganti Brigjen Mallaby
mengeluarkan ultimatum terhadap semua masyarakat Indonesia yang bersenjata
termasuk pimpinan perang dari Indonesia. Ultimatum tersebut dianggap sebagai
hinaan kepada Republik Indonesia dengan alasan bahwa Indonesia sudah merdeka
dan tidak ada hak bagi pemerintahan Belanda untuk mengambil kembali kemerdekaan
Republik Indonesia. Kemudian, tentara Inggirs melakukan serangan besar-besaran
dengan melakukan pengeboman ke gedung-gedung. Awalnya tentara Inggris menduga
bahwa serangan yang dilakukan untuk merebut kota Surabaya dapat dilakukan hanya
dengan tiga hari saja, namun Sutomo yang biasa dikenal dengan Bung Tomo
memberikan pengaruh besar terhadap pemuda-pemuda Surabaya sehingga serangan
Inggris tersebut berlangsung sampai dengan tiga minggu sampai pada akhirnya seluruh
kota Surabaya jatuh ke tangan Inggris. Setidaknya 6,000-16,000 pejuang dari
pihak Indonesia tewas dan sekitar 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya.
Pertempuran di Surabaya ini menginspirasi masyarakat Indonesia lainnya untuk
memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dan mengusir penjajah. Banyaknya
rakyat Indonesia terutama pemuda yang tewas pada peristiwa ini menjadikan
tanggal 10 November sebagai peringatan hari pahlawan untuk selalu mengenang
jasa-jasa para pahlawan.
Makna Hari Pahlawan
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang
menghargai dan menghormati jasa-jasa pahlawannya” merupakan ungkapan populer di
Indonesia, seperti kata Bung Karno juga yang mengatakan “Jangan Sekali-kali
Melupakan Sejarah” atau yang disingkat “Jasmerah” olehnya. Ungkapan-ungkapan
tersebut mengingatkan kepada masyarakat Indonesia modern untuk selalu mengingat
jasa-jasa pahlawan dan memahami makna Hari Pahlawan, apabila bangsa tidak
memiliki pahlawan sama saja bangsa tersebut tidak memiliki hal yang dapat dibanggakan,
sehingga makna Hari Pahlawan itu sendiri tidak akan ada. Oleh karena itu,
setiap tanggal 10 November ditetapkan oleh pemerintah sebagai peringatan untuk
memperingati Hari Pahlawan.
Pejuang Indonesia yang bertempur hebat
untuk memerdekakan Republik Indonesia menjadikan salah satu alasan mengapa 10
November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pada saat itu, para pahlawan
Indonesia hanya bersenjatakan bambu runcing dan senjata-senjata yang dilucuti
dari tentara Jepang, namun para pahlawan Indonesia tersebut mampu menahan
gempuran tentara Inggris yang ada di Surabaya selama 3 minggu. Senjata yang
dimiliki Indonesia sangatlah minim, akan tetapi, perjuangan yang dilakukan oleh
para pahlawan Indonesia sangatlah besar. Bung Tomo merupakan tokoh terkenal dalam
pertempuran Surabaya tersebut, Bung Tomo lah yang dengan gagah berani
mengobarkan semangat para pemuda di Surabaya untuk ikut andil dalam pertempuran
Surabaya.

Cara Memperingati Hari Pahlawan
Dalam rangka memperingati Hari
Pahlawan, banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai warga negara yang
baik, seperti:
1.
Dengan melakukan upacara bendera untuk
menghormati jasa para pahlawan yang telah bertempur demi merebut dan
mempertahankan kedaulatan Indonesia,
2.
Mengunjungi makam para pahlawan,
mengunjungi makam para pahlawan bisa menjadi cara untuk memperingati Hari
Pahlawan,
3.
Kemudian cara yang paling mudah untuk
memperingati Hari Pahlawan adalah dengan selalu menjaga persatuan dan kesatuan
Indonesia, dan selalu berperan aktif dalam kegiatan pembangunan Indonesia.
Bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda
lakukan untuk memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November
2016? Apakah Anda akan melakukan upacara bendera, atau mengunjungi makam para
pahlawan, semuanya terserah pada Anda yang terpenting adalah kita harus selalu
mengenang dan menghormati para pahlawan yang sudah berjuang demi merebut dan
mempertahankan kedaulatan Indonesia tersebut.
Memang saat ini
masyarakat Indonesia tidak lagi dituntut atau turun andil untuk melawan para
penjajah seperti yang dilakukan oleh para pahlawan Indonesia pada waktu itu.
Melalui artikel ini dapat diketahui bahwa banyak pahlawan Indonesia terutama
yang terlibat di pertempuran Surabaya adalah pemuda-pemuda Indonesia. Oleh
karena itu, sekarang ini tugas untuk para pemuda Indonesia selaku penerus
bangsa adalah untuk terus memperingati Hari Pahlawan serta memberikan suatu
arti baru mengenai kepahlawanan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang
tentunya disesuaikan dengan perkembangan jaman.
Pahlawan Nasional Indonesia
|
||||||
Nama
|
Lahir
|
Wafat
|
Keterangan
|
Penetapan
|
Provinsi asal/pengusul
|
Ref.
|
1911
|
1988
|
Aktivis kemerdekaan dan
politisi, Perdana
Menteri Indonesia
|
2008
|
|||
1887
|
1962
|
Aktivis kemerdekaan dan Ulama, Badan
Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
|
2008 [9]
|
|||
1918
|
2000
|
Jenderal Angkatan Darat,
dua kali diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat
|
2002
|
|||
1771
|
1875
|
Bangsawan dari Melawi, menawarkan pengembangan ekonomi,
melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda
|
1999
|
|||
1908
|
1981
|
Sarjana Islam dan penulis
sekaligus tokoh Muhammadiyah.
|
2011
|
|||
1883
|
1959
|
Politisi, kemudian penulis
|
1959
|
|||
1909
|
1947
|
Tokoh awal dalam Angkatan Udara,
terbunuh ketika membawa keperluan medis karena ditembak oleh Belanda
|
1974
|
|||
1888
|
1971
|
Tokoh Islam, salah seorang
pendiri Nadhlatul Ulama
|
2014
|
|||
1918
|
1947
|
Bangsawan Bugis, memimpin penyerangan melawan pasukan
Belanda selama Revolusi
Nasional, seorang putra dari Andi Mappanyukki
|
2005
|
|||
1896
|
1978
|
Aktivis kemerdekaan dan menteri
pemerintahan
|
2009
|
|||
1917
|
1984
|
Jurnalis dan aktivis
kemerdekaan, Wakil
Presiden Indonesia ketiga
|
1998
|
|||
1905
|
1968
|
Aktivis kemerdekaan yang
menjadi menteri pemerintahan, menyeludupkan senjata untuk mendukung Revolusi
Nasional
|
2007
|
|||
1752
|
1828
|
Pemimpin gerilyawan Jawa yang
memimpin penyerangan terhadap kolonial Belanda atas beberapa pendudukan
|
1974
|
|||
1884
|
1954
|
Aktivis kemerdekaan, politisi,
pemimpin Islam Minang
|
1961
|
|||
1916
|
1947
|
Tokoh awal dalam Angkatan Udara,
terbunuh ketika membawa keperluan medis karena ditembak oleh Belanda
|
1974
|
|||
1868
|
1934
|
Pemimpin Islam Jawa, mendirikan Muhammadiyah; suami Siti Walidah
|
1961
|
|||
1786
|
1870
|
Pemikir dan penulis Islam yang
dikenal karena pernyataan anti-Belandanya
|
2004
|
|||
1922
|
1965
|
Pemimpin Angkatan Darat,
terbunuh saat Gerakan
30 September
|
1965
|
|||
1889
|
1964
|
Pendukung kemerdekaan,
politisi, dan tokoh Partai Komunis
Indonesia
|
1964
|
|||
1911
|
1946
|
Penyair dan nasionalis
|
1975
|
|||
1809
|
1862
|
Melakukan penyerangan terhadap
pasukan kolonial Belanda dalam Perang Banjar
|
1968
|
|||
1918
|
1949
|
Geolog dan pengajar yang
dieksekusi oleh Belanda
|
1969
|
|||
1897
|
1990
|
2016
|
||||
1910
|
1947
|
Walikota Padang, melawan pasukan Belanda saat Revolusi
Nasional
|
2005
|
|||
1921
|
1969
|
Jenderal, saksi dari Supersemar
|
1969
|
|||
1892
|
1977
|
2015
|
||||
1836
|
1891
|
Tokoh Islam Aceh dan
pemimpin gerilyawan yang
melakukan perlawanan pasukan kolonial Belanda
|
1973
|
|||
1918
|
1987
|
Prajurit dan politisi,
menawarkan pengembangan ekonomi dan budaya di Kalimantan Tengah
|
1998
|
|||
1886
|
1943
|
1964
|
||||
1883
|
1934
|
Politisi, pemimpin Sarekat Islam, mentor Sukarno
|
1961
|
|||
1879
|
1950
|
Jurnalis dan politisi Indo yang
membantu kemerdekaan Indonesia
|
1961
|
|||
1884
|
1947
|
Pengajar, mendirikan sekolah
untuk perempuan yang pertama di negara tersebut
|
1966
|
|||
1850
|
1908
|
Pemimpin gerilyawan Aceh yang
melakukan penyerangan terhadap pasukan kolonial belanda; istri Teuku Umar
|
1964
|
|||
1785
|
1855
|
Putra Sultan Yogyakarta,
melangsungkan perang lima tahun melawan pasukan kolonial Belanda
|
1973
|
|||
1925
|
1965
|
Jenderal Angkatan Darat,
terbunuh dalam Gerakan
30 September
|
1965
|
|||
1921
|
1966
|
Laksamana Angkatan Laut dan diplomat, terbunuh dalam
kecelakaan helikopter
|
1966
|
|||
1890
|
1929
|
Pemimpin Islam, menegosiasikan
pengamanan pejiarah haji Indonesia; tokoh Muhammadiyah.
|
1964
|
|||
1923
|
1980
|
Pembuat bendera nasional pertama, aktivis sosial,
istri Sukarno
|
2000
|
|||
1899
|
1962
|
Doktor dan politisi,
memperjuangkan hak asasi pasukan buruh
|
1962
|
|||
1921
|
1979
|
1993
|
||||
1896
|
1968
|
Aktivis kemerdekaan dan
politisi, menyarankan pembentukan Pembela Tanah Air
|
2004
|
|||
1907
|
1962
|
Jenderal, deputi ketua staff Angkatan Darat
|
1962
|
|||
1922
|
1947
|
Tokoh awal dalam Angkatan Udara,
terbunuh saat Revolusi
Nasional
|
1975
|
|||
1717
|
1792
|
Sultan Yogyakarta,
melakukan perlawanan terhadap VOC,
mendirikan Yogyakarta
|
2006
|
|||
1912
|
1988
|
Sultan Yogyakarta,
aktivis kemerdekaan, pemimpin militer, dan politisi; Wakil
Presiden Indonesia kedua
|
1990
|
|||
1947
|
1968
|
1968
|
||||
1923
|
1984
|
Prajurit selama Revolusi
Nasional Indonesia, mendukung integrasi Kalimantan di
Indonesia
|
2001
|
|||
1631
|
1670
|
Sultan Gowa, melakukan perlawanan terhadap
pasukan kolonial Belanda
|
1973
|
|||
1875
|
1947
|
Pemimpin Islam, pendiri Nahdlatul Ulama
|
1964
|
|||
1906
|
1975
|
Sarjana legal, aktivis
kemerdekaan, menteri pemerintahan, dan pengajar
|
1999
|
|||
1912
|
1992
|
Insinyur, membuat senjata
selama Revolusi
Nasional, membantu pendirian Universitas
Gadjah Mada
|
2009
|
|||
1921
|
1999
|
Aktivis kemerdekaan dan menteri
pemerintahan
|
2007
|
|||
1921
|
2010
|
Pemimpin Nahdlatul Ulama, politisi
|
2011
|
|||
1903
|
1958
|
Aktivis kemerdekaan, politisi,
dan anggota pasukan gerilyawan
|
1999
|
|||
1772
|
1864
|
Tokoh Islam dari Sumatera Barat yang melakukan perlawanan terhadap
pasukan kolonial Belanda dalam Perang Padri
|
1973
|
|||
1834
|
1856
|
Bangsawan dari Lampung, memimpin revolusi penyerangan
penjajah Belanda
|
1986
|
|||
1593
|
1636
|
Sultan Aceh, memperluas pengaruh negara
|
1993
|
|||
1914
|
1958
|
Komposer yang membuat sejumlah lagu kebangsaan
|
2004
|
|||
1918
|
1947
|
Tokoh awal dalam Angkatan Udara,
terbunuh saat Revolusi
Nasional
|
1975
|
|||
1899
|
1971
|
Aktivis kemerdekaan, ahli
hukum, dan politisi
|
2002
|
|||
1913
|
1985
|
Aktivis kemerdekaan dan
pengajar, membantu pendirian Universitas Udayana
|
2006
|
|||
1921
|
1974
|
Pejuang kemerdekaan menentang
pemerintah Hindia Belanda di Tanah Karo
|
2014
|
|||
1943
|
1968
|
1968
|
||||
1917
|
1992
|
Jenderal Angkatan Darat dan politisi
|
2002
|
|||
1935
|
1965
|
Aktivis kemerdekaan, memimpin
penyerangan melawan pasukan Belanda saar Revolusi
Nasional
|
2002
|
|||
1916
|
2000
|
2010
|
||||
1905
|
1977
|
Menteri Kesehatan Pertama,
mengembangkan sistem klinik Puskesmas
|
2010
|
|||
1911
|
1963
|
Politisi Sunda, Perdana
Menteri Indonesiaterakhir
|
1963
|
|||
1928
|
1965
|
Brigadir polisi, terbunuh saat Gerakan 30 September
|
1965
|
|||
1879
|
1904
|
Tokoh hak asasi perempuan Jawa
|
1964
|
|||
1900
|
1986
|
Aktivis kemerdekaan, pemimpin Partai Katolik
|
2011
|
|||
1923
|
1965
|
Jenderal Angkatan Darat,
terbunuh saat Gerakan
30 September
|
1965
|
|||
Tidak diketahui
|
1849
|
Pemimpin Bali yang
melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda
|
1993
|
|||
1904
|
1957
|
Gubernur Bali pertama
|
2011
|
|||
1890
|
1954
|
2015
|
||||
1889
|
1959
|
Pengajar dan menteri
pemerintahan, mendirikan Taman Siswa, saudara Suryopranoto
|
1959
|
|||
1904
|
1957
|
Pengajar bersama dengan Budi Utomodan Taman Siswa, menteri pemerintahan
|
2011
|
|||
1852
|
1942
|
Pemimpin gerilyawan Batak yang
melawan penjajah Belanda
|
2005
|
|||
1898
|
1952
|
Ketua Kehakiman Mahkamah AgungPertama
|
1965
|
|||
1700
|
1765
|
Bangsawan dari Kesultanan Paser, mengusir pasukan Belanda
dari Kerajaan Wajo
|
1998
|
|||
1900
|
1981
|
Diplomat, menegosiasikan
pengakuan Indonesia saat Revolusi
|
2013
|
|||
1911
|
1988
|
Laksamana Muda Angkatan Laut,
menyeludupkan barang untuk membantu Revolusi
Nasional
|
2009
|
|||
1767
|
1852
|
Sultan Palembang,
yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Inggris dan Belanda
|
1984
|
|||
1725
|
1795
|
Melakukan perlawanan terhadap
penjajah Belanda dan antek-anteknya di Jawa Tengah
|
1988
|
|||
1885
|
1967
|
Bangsawan Bugis, memimpin penyerangan melawan pasukan
Belanda pada 1920an dan 30an, ayah dari Andi Abdullah
Bau Massepe
|
2004
|
|||
1872
|
1924
|
Pendukung hak asasi perempuan
dan pengajar
|
1969
|
|||
1800
|
1818
|
Gerilyawan dari Maluku yang
wafat saat ditahan Belanda
|
1969
|
|||
1912
|
1986
|
Nasionalis dan aktivis
kemerdekaan, menawarkan intergrasi Papua di Indonesia
|
1993
|
|||
1924
|
1982
|
2015
|
||||
1896
|
1946
|
Sarjana Islam, pemimpin Muhammadiyah
|
1964
|
|||
1924
|
1965
|
Jenderal Angkatan Darat,
terbunuh saat Gerakan
30 September
|
1965
|
|||
1907
|
1986
|
Aktivis kemerdekaan dan
politisi
|
2004
|
|||
1870
|
1910
|
Pemimpin gerilyawan Aceh yang
melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda
|
1964
|
|||
1902
|
1980
|
Aktivis kemerdekaan, Wakil
Presiden Indonesia Pertama
|
2012
|
|||
1894
|
1941
|
Politisi dan aktivis
kemerdekaan
|
1960
|
|||
1908
|
1993
|
Sarjana Islam dan politisi, Perdana
Menteri Indonesia kelima
|
2008
|
|||
1906
|
1997
|
Aktivis kemerdekaan, gubernur Sumaterapertama
|
2006
|
|||
1905
|
1988
|
Pejuang kemerdekaan, pemimpin Pertempuran Surabaya
|
2014
|
|||
1903
|
1962
|
Penyair yang menjadi politisi
dan aktivis kemerdekaan
|
1973
|
|||
1920
|
2012
|
Bapak Brimob Kepolisian RI
|
2015
|
|||
1913
|
1986
|
Pemimpin saat Pertempuran Surabaya,
mendirikan Kampus Kedokteran Gigi Dr. Moestopo
|
2007
|
|||
1907
|
1948
|
Menangani keamanan saat Proklamasi
Kemerdekaan, membangun sebuah rumah saat di Surakarta
|
1964
|
|||
1907
|
1986
|
Aktivis kemerdekaan dan
politisi, membantu memadamkan pemberontakan Permesta
|
2003
|
|||
1876
|
1906
|
2015
|
||||
1917
|
1946
|
Pemimpin militer Bali saat Revolusi
Nasional
|
1975
|
|||
1738
|
1805
|
Sultan Tidore, memimpin beberapa pertempuran
laut melawan pasukan kolonial Belanda
|
1995
|
|||
1914
|
1992
|
Pemimpin Islam dan pengajar,
memimpin prajurit saat Revolusi
Nasional
|
2006
|
|||
1899
|
1946
|
1974
|
||||
1880
|
1964
|
Politisi wanita awal, melakukan
perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi
Nasional
|
2006
|
|||
1897
|
1945
|
Politisi dan aktivis
kemerdekaan
|
1973
|
|||
1901
|
1958
|
Mengkoordinasikan penyerangan
di Sulawesi Selatan saat Revolusi
Nasional, menawarkan integrasi nasional
|
2006
|
|||
1807
|
1849
|
Susuhunan Surakarta,
memberontak melawan pasukan kolonial Belanda
|
1964
|
|||
1866
|
1939
|
Susuhunan Surakarta,
mendukung berbagai proyek untuk kepentingan Pribumi Indonesia
|
2011
|
|||
1783
|
1817
|
Gerilyawan dari Maluku yang
melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda
|
1973
|
|||
1939
|
1965
|
Prajurit Angkatan Darat,
terbunuh saat Gerakan 30 September
|
1965
|
|||
1846
|
1907
|
Bangsawan Toraja, melakukan perlawanan terhadap
penjajah Belanda
|
2002
|
|||
1809
|
kr. 1870
|
Sejarawan dan penyair dari Riau
|
2004
|
|||
1727
|
1784
|
Pejuang dari Riau yang melakukan perlawanan terhadap
pasukan kolonial Belanda
|
1997
|
|||
1879
|
1952
|
Ketua Dewan Perwakilan
Rakyat pertama
|
2013
|
|||
1915
|
1947
|
Memimpin pasukan dalam dua
pertempuran melawan pasukan Belanda saat Revolusi
Nasional
|
2001
|
|||
1910
|
1965
|
Pendukung hak asasi wanita dan
nasionalis
|
1974
|
|||
1925
|
1949
|
Gerilyawan di Makassar saat Revolusi
Nasional, dieksekusi oleh Belanda
|
1973
|
|||
1909
|
1963
|
Menteri Kehakiman, pelopor pengesahan
pembaruan di negara tersebut
|
1963
|
|||
1890
|
1949
|
Politisi Minahasa dan
pendukung kemerdekaan Indonesia
|
1961
|
|||
1878
|
1956
|
Pengusaha, mendirikan Sarekat Islam
|
1961
|
|||
1918
|
1978
|
Memperjuangkan kemerdekaan Papuadari Belanda, menawarkan integrasi
Papua di Indonesia
|
1993
|
|||
1849
|
1907
|
Pemimpin Batak yang
melakukan kampanye gerilyawan melawan
pasukan kolonial Belanda
|
1961
|
|||
1918
|
1965
|
Jenderal Angkatan Darat,
terbunuh saat Gerakan
30 September
|
1965
|
|||
1923
|
1996
|
Istri presiden Suharto, aktif dalam karya sosial,
mendirikan Taman Mini
Indonesia Indah
|
1996
|
|||
1872
|
1946
|
Pendiri Aisyiyah, tokoh Muhammadiyah, istri Ahmad Dahlan,
|
1971
|
|||
1927
|
1950
|
Brigadir Jeneral Angkatan Darat,
terbunuh ketika putting down pemberontakan di Sulawesi
|
2007
|
|||
1916
|
1950
|
Komandan Ketua Tentara
Nasional Indonesia pada
saat Revolusi
Nasional.
|
1964
|
|||
1896
|
1963
|
Uskup Katolik Jawa dan
nasionalis
|
1963
|
|||
1926
|
1965
|
Kolonel Angkatan Darat,
terbunuh saat Gerakan
30 September
|
1965
|
|||
1912
|
1971
|
Pelopor pengobatan prostesis
|
1973
|
|||
1903
|
1962
|
Tokoh kemerdekaan, diplomat,
dan politisi
|
1962
|
|||
1916
|
1971
|
Tokoh kemerdekaan, diplomat,
dan politisi
|
2014
|
|||
1901
|
1970
|
Aktivis kemerdekaan yang
membacakan Proklamasi
Kemerdekaan, Presiden Indonesia pertama
|
2012
|
|||
1591
|
1645
|
Sultan Mataram, melakukan perlawanan
terhadap VOC
|
1975
|
|||
1894
|
1963
|
Aktivis kemerdekaan dan
politisi
|
2006
|
|||
1916
|
1949
|
Menteri pemerintahan, terbunuh
ketika perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi
Nasional
|
1970
|
|||
1903
|
1958
|
Menteri Kehakiman Pertama, membantu penulisan Konstitusi
|
1965
|
|||
1920
|
1965
|
Jenderal Angkatan Darat,
terbunuh saat Gerakan
30 September
|
1965
|
|||
1925
|
1945
|
Pemimpin pemberontakan melawan pasukan
pendudukan Jepang di Blitar
|
1975
|
|||
1893
|
1981
|
Politisi dan aktivis
kemerdekaan
|
1986
|
|||
1896
|
1948
|
Gubernur Jawa Timur saat Revolusi
Nasional
|
1964
|
|||
1871
|
1959
|
Pengajar dan tokoh hak
asasi pekerja, saudara Ki Hajar Dewantara
|
1959
|
|||
1909
|
1966
|
Politisi, Perdana
Menteri Indonesiapertama
|
1966
|
|||
1888
|
1938
|
pengajar Jawa, mendirikan Budi Utomo
|
1961
|
|||
1920
|
1981
|
Pemimpin militer yang memimpin
perlawanan dalam Pertempuran Surabaya
|
2008
|
|||
1922
|
1965
|
Jenderal Angkatan Darat,
terbunuh saat Gerakan
30 September
|
1965
|
|||
1911
|
1989
|
Gubernur Bank Indonesia pertama
|
2011
|
|||
1893
|
1968
|
Sultan Siak,
menawarkan integrasi kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur
|
1998
|
|||
1920
|
1990
|
Jenderal yang menjabat sebagai
ketua staff dari 1950 sampai 1954
|
2013
|
|||
1784
|
1882
|
Pemimpin Islam dari Riau yang melakukan perlawanan terhadap
pasukan kolonial Belanda saat Perang Padri
|
1995
|
|||
1884
|
1949
|
Politisi dan aktivis komunis Minang
|
1963
|
|||
1816
|
1904
|
Sultan
Jambi, memimpin pasukan revolusi melawan pasukan kolonial Belanda
|
1977
|
|||
1631
|
1683
|
Gerilyawan dari Banten yang
melakukan perlawanan terhadap Belanda
|
1970
|
|||
1880
|
1918
|
Jurnalis, diasingkan karena
editorial anti-Belanda buatannya
|
2006
|
|||
1854
|
1899
|
Pemimpin gerilyawan Aceh yang
melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda; suami Cut Nyak Dhien
|
1973
|
|||
1660
|
1706
|
Memimpin beberapa pemberontakan
melawan VOC
|
1975
|
|||
1893
|
1948
|
Pemimpin Angkatan Darat
Indonesia, komandan kedua setelah Sudirman
|
1964
|
|||
1903
|
1938
|
Komposer lagu kebangsaan "Indonesia Raya"
|
1971
|
|||
1914
|
1953
|
Pemimpin Nahdlatul Ulama, Menteri Agama Indonesia
pertama
|
1964
|
|||
1852
|
1917
|
Doktor dan pemimpin di Budi Utomo
|
1973
|
|||
1895
|
1952
|
Pelopor pengobatan radiologi
|
1968
|
|||
1925
|
1962
|
Komodor Angkatan Laut,
terbunuh saat konfrontasi dengan Belanda di Nugini Belanda
|
1973
|
|||
1626
|
1699
|
Pemimpin Islam, memimpin
pemberontakan gerilyawan melawan VOC
|
1995
|
|||
1907
|
1944
|
Pemimpin Islam yang melakukan
perlawanan terhadap pasukan
pendudukan Jepang
|
1972
|
|||
1909
|
1963
|
Politisi dan gerilyawan, terbunuh saat peristiwa
percobaan pembunuhan yang ditargetkan kepada Sukarno
|
1963
|
|||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar